Pages

Juli 22, 2011

Everlasting Smile

Hari ini, hari bahagiamu. Tidak kutuliskan 'seharusnya hari bahagiamu', walau kau tak bisa merayakannya bersama kami. Karena aku yakin, di sana kau sedang bahagia menerima doa-doa. Dari kami, yang menyayangi dan merindukanmu.

Sudah, aku sudah berjanji, tak akan ada air mata lagi. Rindu itu biarlah memenuhi dada, mengalir dalam darah, menguar di udara, bersama doa-doa. Semoga Allah SWT berkenan menerimanya.

Kutemukan foto di folder Moi!-mu. Kau beri nama: The Everlasting Smile. Senyummu menawan, kau tahu? Kujadikan picture profile di akun Facebook yang tak kau sukai itu. Tak apa ya? Aku ingin mengenangmu hari ini, seperti itu. Kubagi senyummu ke dunia. Harapanku hanya satu: maaf dan doa untukmu dari siapapun yang pernah mengenalmu. Itu, hadiahku untukmu.

In Memoriam: MiDas...Mia Damayanti Siregar

Juli 20, 2011

Ngisengin Hippo

Kalau disuruh memilih, saya lebih suka employee gathering daripada family gathering. Ini pendapat pribadi, lho. Bukan, bukan karena ngiri pada kebahagiaan teman-teman bersama keluarga kecil atau gedenya itu. Tapi karena seiring menyusutnya jumlah karyawati single dari tahun ke tahun di antara belantara mayoritas karyawan di kantor, saya sering merasa kesepian. Lebih tepatnya, sering mati gaya.

Seperti family gathering tahun ini. Sesampai di Taman Safari Puncak, saya bengong di depon bus. Tengok kanan-kiri, semua sibuk dengan keluarganya dan jalan sendiri-sendiri. Lalu celingukan mencari para bujang yang diangkut rombongan bus lainnya. Ternyata mereka juga sudah menghilang. Daripada mati gaya, akhirnya ikutan serombongan orang entah darimana saja dan nongkrong di depan pertunjukan gajah tanpa bisa menikmati pertunjukannya. Ada yang tau sebabnya? Hehehehe.

Dua puluh menit bengong dan bete, akhirnya saya putuskan jalan sendiri. Ngecek kamera saku dan siap mencari angle tidak biasa. Siapa tahu nanti ketemu bujang-bujang itu di jalan. Eh, baru juga masuk ke baby zoo...saya nemu nih salah satu hewan favorit. Kebetulan, ada rombongan tukang insinyur yang lewat. Jadi deh si Azis saya suruh ngambil foto narsis saya dengan.....Hippo!






Kami akrab ya? Coba perhatikan, si Hippo nguapnya kan sesuai tuh sama saya *hehehe*. Eh, itu saya naik pagar lho. Awalnya dilihatin aneh orang yang lewat. Ujung-ujungnya, mereka ikutan juga *hahaha*. Keisengan memang mudah menular.

Secara keseluruhan, disamping kesepian diawalnya, saya menikmati family gathering tahun ini. Sebenernya memutuskan untuk menikmatinya. Saya memutuskan untuk enjoy saja: puter-puter naik kereta wisata, main arung jeram mini sampai baju basah kuyub dan menggigil kedinginan, bermain dengan anak-anak teman, bertingkah konyol bersama Gaguk di malam keakraban (sedekah sosial ceritanya), dan main outbound seru di hari kedua. Walaupun tidak dapat door prize, saya mengantongi voucher belanja tiga ratus ribu rupiah. Lumayan.

Dan lebih dari itu semua...saya punya satu alasan sendiri untuk berbahagia. Apa itu? Adaaaa aja *hahaha*

A Letter from Muta

Untuk: mama Aya dan Ulyl

Kemarin sore selepas jam kantor, di antara tumpukan kerjaan yang serasa tak ada habisnya itu, perut yang mendadak melilit entah mengapa dan keinginan pulang bersamanya; aku menyempatkan diri mencari dan mengedit foto kita bertiga. Foto yang kujanjikan upload ke blog. Foto setelah kalian mendandaniku untuk acara pernikahan Agung-Rima. Kusimpan sementara di draft blog ini. Ngomong-ngomong siapa sih yang memotret kita waktu itu? Aku baru menyadari fotonya agak buram.

Semalam, sambil sibuk membantunya berburu tiket mudik lebaran tahun ini; aku iseng publish foto kita ke blog. Hanya untuk meyakinkan diri sungguhkah foto kita itu buram atau ada yang salah dengan mataku sore tadi. Ternyata memang buram. Aku yang gaptek ini tak tahu bagaimana membuat gambarnya menjadi tajam.

Pagi tadi, sambil sarapan dan mulai blogging...kutengok lagi foto kita itu. Masih buram. Entah mengapa aku berharap ada keajaiban yang membuatnya tiba-tiba menjadi jernih dan terang. Tidak mungkin kan kita kembali ke waktu itu, dan mengambil fotonya kembali?

Aku tiba-tiba khawatir pada foto-foto kita yang lain. Kuatir semua menjadi buram. Aku buka semua folder yang menyimpan foto kita di komputer ini: pengajian terakhir sebelum aku pindah, makan-makan farewell party kepindahanku, perayaan hari Kartini 2008 di pusat, Java Jazz 2009, liburan 2009 di Batu, pernikahan Agung-Rima 2009... Lho, lho mengapa semua foto menjadi buram???

Oh tidak, ternyata mataku yang membasah...memburamkan penglihatan. Aku rindu kalian, rindu masa-masa kita bersama. Kita bertiga. Kau benar, neng. Pertemuan kita yang sepotong-sepotong itu: aku dan kamu, aku dan Lely...rasanya seperti minum softdrink: tak melepas dahaga, hanya menambah rindu saja.

Janji ya, secepatnya kita ketemu lagi. Nanti, kita buat foto sebanyak-banyaknya. Sebanyak-banyaknya....dan jangan buram. Karena kita tak mungkin bisa mengulang moment-moment itu kembali.... Kalian, jauh di mata...sungguh dekat dihatiku.

Juli 19, 2011

Pangling

Suatu pagi dalam kamar hotel di Gresik; saya duduk pasrah di depan hamparan: kebaya merah darah, jilbab warna senada, kain batik cirebon motif lunglungan merah dasar putih, dan aksesoris yang tercatat sebagai milik saya serta segala alat make-up lengkap yang pastinya bukan milik saya. Milik dua sahabat saya: Maya dan Lely, yang pagi itu sibuk berdiskusi akan diapakan baiknya saya ini.

Ya, hari itu saya didapuk sobat kantor: Rima dan Agung, menjadi among tamu di pernikahan mereka. Spesial, karena cuma saya satu-satunya teman dari kantor unit di Bekasi yang dipercaya menunaikan tugas ini. Untuk saya yang tidak pede dandan dan terbiasa 'pake bedak luntur dalam 5 menit' serta 'slebor asal nyaman' dalam keseharian, tugas ini sungguh berat. Rasanya bak makan buah simalakama. Ditolak? Sayang, secara jarang ditawari dan pengen ngerasain jadi pager ayu (pas jaman masih muda) atau setidaknya among tamu (pas jaman muda sudah berlalu). Diterima? Saya tidak berani membayangkan bagaimana bentuk saya dalam kain panjang, kebaya, high heels dan make up lengkap. Haduh....

Untunglah saya punya dua sahabat yang tidak gagap fashion, pinter dandan dan tahu mana salon terpercaya yang diyakini mampu merombak saya menjadi (agak) anggun dan elegan. Awalnya sempat panik karena salon yang dituju sedang kelebihan order dan menolak order baru. Hingga akhirnya diputuskan mereka berdua yang akan (berusaha sekuat tenaga) me-make over saya. Cuma satu saja pesan kepada mereka berdua: "tolong ya neng, nak...jangan bikin menor-menor, sudah cukup jadi badut ancol, jangan ditambahi jadi ondel-ondel".

Saya memejamkan mata selama mereka beraksi. Oles sana, oles sini, tepuk sana, tepuk sini. Sederetan diskusi, instruksi, dan akhirnya diakhiri cucuran air mata ketika lem bulu mata palsu menusuk mata kanan. Selesai.

Asli, waktu itu saya takut membuka mata. Takut cermin di depan sana menyajikan pemandangan Siti Nurhaliza yang cantik manis anggun menawan itu *lebay dan ngarep*. Tapi, whoaaaa...Siapa itu? Siapa itu memandang saya terbengong-bengong di cermin? Tidak secantik Siti Nurhaliza *tetep ngarep*, tapi manis juga jika dipandang-pandang *narsis kumat*.

Saya pangling. Sungguh, pangling. Jejak yang masih meyakinkan bahwa yang memandang balik dari cermin itu adalah saya hanyalah alis tebal, hidung itu dan tulang pipi itu. Kedua juru rias dadakan sendiri sampai bengong, lho. Antara percaya dan tidak percaya *hahaha*. Ternyata, saya bahkan bisa luwes juga setelah segala perabot lenong yang lain dipakai *tambah narsis*.

Saya ingat benar perasaan waktu itu. Euphoria-nya. Jadi rajin bercermin, senyum-senyum dan kenarsisan tentu meningkat. Pede. Senang. Perasaan yang sama saya temui ketika blog ini selesai direparasi Enno. Pangling: "Aduhai, jadi cantik begini. Makasih banyak ya, No *tabik ala Nihon-jin*. Tanpa bantuanmu, macam mana aku yang gaptek ini bisa bikin...apa itu? header? background? widget? Trus, mana mungkin aku mudeng...apa itu? html? script? syntax? control F? *ngelirik tukang insinyur*. Makasih buanyak...tak doa'in dapat Chef Juna, No *Amiin...hehehe* ".

Ya, ya, ya...buat kalian yang sudah lama mengenal baik saya; ungu dan hijau mungkin bukan hal yang aneh. Tapi bunga? Well, terimalah dengan lapang dada....sekalipun sepertinya saya dan bunga tidak matching, tapi saya memang pecinta bunga *hahay*.

(Judul posting ini ditulis 15 Juli lalu, isinya ditulis di handphone 16 Juli lalu dan baru diposting saat ini karena saat itu lapie pinjaman dari tukang insinyur mendadak hibernate pada saat yang dibutuhkan)
Half Purple and Blue Butterfly