Pages

13.3.12

Hujan Pagi ini dan Giulietta

Cinta?

Seperti gema dari masa lalu, yang sayup kudengar sambil lalu. 
Lirih, di tengah riuh suara-suara.

Seperti gelombang luar terakhir  yang samar kutangkap,
dari setetes air yang jatuh di permukaan danau tenang. 
Mengalun, menghilang.

Seperti dingin yang tiba-tiba menusuk:

memaksaku merapatkan jaket, membenamkan tangan di saku terdalam.
Pada suatu halte sunyi di hari hujan. 
Kelu.

Seperti seraut wajah yang bersimpangan jalan:

membuatku tertegun, berhenti sejenak, menoleh tak yakin. 
Siapa? Terasa akrab.
 

Cinta?
Seperti itu...


picture from here


Saya tak pandai membuat puisi. Saya merasa begitu. Tapi selepas Subuh tadi, tiba-tiba saja ingin menulis kata-kata di atas. Mungkin karena pengaruh udara dingin dan hujan deras di luar kamar. Mungkin benar kata orang, dalam hujan ada simphony yang hanya dapat didengar oleh mereka yang merindu. Saya galau? Ndak juga. Ngantuk lebih tepatnya. Semalam, sudah siap tidur dari jam setengah sembilan. Tapi akhirnya malah terjaga sampai dini hari, lepas pukul 1. Seperti disihir Juliet, buku Anne Fortier, yang baru saya beli hari Minggu lalu. Saya tenggelam dalam versi lain kisah Romeo dan Juliet, di Sienna, tahun 1340. Saya menikmati perjalanan Giuliette, tokoh dalam buku itu, menemukan hubungan dirinya dengan Juliet karya Shakespeare. Mungkin karena itu juga saya jadi sok romantis pagi ini. Tak apalah, ya. Sekali-sekali. *hehehe*.

Akhir-akhir ini saya jarang posting, ya. Bukan karena tak ada ide atau tak sempat. Saya masih blogwalking sana-sini, walau bertingkah seperti hantu: datang diam-diam, pergi diam-diam. Maafkan. Banyak hal terjadi, berubah, di hidup saya dan sekitar saya. Saya hanya sedang kelelahan, merasa kehabisan tenaga. Tapi selebihnya, Insya Allah, baik-baik saja * senyum sok penting, sok manis*.

Btw, karena membaca buku Anne, saya jadi pengen membaca buku Romeo n Juliet-nya Shakespeare. Yang bagian dialog-dialog Romeo dan Juliet. Saya pengen larut dan mabok karenanya. Siapa tahu saya jadi bisa bikin puisi lagi *hehehe*. Semangat ah!

15.2.12

Saat Stress Melanda

Hari ini, eh tidak...tepatnya sejak kemaren stress saya kumat karena isu suksesi di kantor yang  menurut saya banyak merugikan bagian Keuangan. Gejala stress saya gampang dikenali: ngomel tiada henti (ngomel or marah ya? hehe), iseng kumat, garing kumat, pokoknya ndak jelas banget. Kasihan siswa OJT dan PKL yang ditempatkan di Keuangan. Jadi obyek keisengan saya dari pagi sampe sore. Trus acara lomba simulasi pemadam kebakaran antar unit yang seharusnya khidmat dan menegangkan malah jadi ajang ceng-cengan saya dan teman-teman di area evakuasi. Yang ikut lomba pastilah serius, sedang kami para penggembira heboh sendiri. Saya sempat kena semprot salah satu anggota regu pemadam, pasca perlombaan: "Mbakkkk...yaelaaa. Aku dah lomba capek-capek and kepanasan pake seragam ini, eh sampeyan malah ruame sendiri. Suarane paling kenceng pula.". Hehehehe...maaf, maklum lagi stress.

Sore tadi, giliran tukang parkir di Pizza Hut Harapan Indah yang nyaris jadi korban keisengan saya. Sambil membayar uang parkir seribu rupiah, tiba-tiba terbersit ide iseng nggegombal. Tapi karena saya tak tega pada si tukang parkir, saya gombalin aja housemate yang sedang nangkring di motor saya:
"Tadi pas bayar parkir aku lho dah mau keceplosan ngomong ke bapak-e. Iseng."
"Ngomong apa, Mbak?"
"Pak, kalau bayar parkir sepeda motor kan seribu rupiah ya. Kalau bayar parkir dihatinya kira-kira berapa ya, pak?"
"Hah? Mbak Ronaaaaaaaaaaaa....kamu ya! Iseng banget sih! Untung ga keceplosan!"
"Hehehehe..."

dicomot dari sini
"Btw, kalo mau parkir dihatimu pertanyaannya bukan bayar apa atau berapa ya. 
Pertanyaan pertama pastinya: boleh ndak? hehehe"...*ngarep ketinggian!plak!*

1.2.12

Little Maya's Giveaway

Batik tulis, passion saya selain buku dan kopi. Saya  masih kolektor kecil-kecilan. Sebagai kolektor, saya meyakini sehelai batik tulis halus memilih sendiri jodohnya, kolektornya. Karena berburu batik adalah sebuah petualangan: gabungan antara penasaran, mengumpulkan informasi, target dana, waktu eksekusi, apresiasi, rasa dan keberuntungan. Saya juga yakin setiap helai batik membawa dongengnya masing-masing: bahan yang dipakai, warna, makna  dan sejarah dibalik motif, lokasi pembuatan, siapa pengrajinnya, bagaimana mendapatkannya. Saya sedang belajar menjadi pendongeng batik. Suatu saat, saya ingin membuat satu dongeng milik saya sendiri. Itu nanti. Sekarang, saya sedang berencana memiliki salah satu karya Oey Soe Tjoen atau keturunannya. Semoga berjodoh.

motif ondel-ondel pada batik betawi yang pengrajinnya saya kunjungi Jumat lalu


(tulisan ini diikutsertakan di Maya's giveaway. pertama kali ikutan giveaway. saya pengen digambar yang lucu-lucu. belum pernah. ngarep hehehe)

25.1.12

Galau Malam

Siang tadi, di musholla, aku tak sanggup menatap mata-mu. Mengapa beriak? Adakah salah pada kata-kataku? Apakah keputusanku salah? Adakah yang tak kupahami? Apakah aku gagal berempati? Apakah aku tidak bertindak selayaknya? Aku tak sanggup bertanya. 

Malam ini, galau sampai pada puncaknya. 

Kamu;

Apakah aku, sudahkah jadi bos yang baik? Pemimpin yang tak hanya bersuara tapi memberi teladan? Sudahkah menjadi teman dan tempat pembelajaran yang baik? Pendengar yang baik? Pelindung yang baik? Sudah menambah bekal dan mengajak ke arah kebaikan?  

Kau tahu? Setiap keputusan-ku, adalah hasil timbangan kebaikan dan keburukan. Tak sedikitpun menambahkan kepentingan diri. Selalu kebaikan untukmu, untuknya dan untuknya. Tak ada untukku. Sudah lama kubuang itu. Sejak dia dan mereka menghunuskan pedang-pedang kepentingan menantangku.

Kamu, lebih baik, lebih kuat, dari yang kau sangkakan.
 
Sungguh;
Riak-mu itu, jauh lebih membadai ... dari hujan deras yang sedang menderu di luar sana. 
Half Purple and Blue Butterfly