Namanya pe-er aka Pekerjaan Rumah, harusnya dikerjakan di rumah toh? Jadi, baiklah-baiklah ... demi menerima dikerjain Enno, malam ini kita kalahkan dulu tuntutan 'balung tuo'. Trus pasang kaca mata kuda dari godaan bantal-guling.
Sebelumnya, terima kasih untuk award-nya. Award pertama nih. Jadi inget pertanyaan-pertanyaan saya ke pemberinya tadi siang: "Terus terang bingung, award itu apa ya? Trus untuk apa? Harusnya diapain? Kalo bikin award gimana sih? Harus pinter gambar dong?" Maafkan ketidakgaulan dan kelemotan saya, ya.
Sepuluh hal tentang saya? Wah, ini juga pertama kalinya. Dilarang jaim pula? Wooo...baiklah. Tapi jaim itu siapa sih? Ndak kenal. Hahaha.
Oke, ini sepuluh hal tentang saya :
Satu. Saya pejabat. Bukan, bukan pejabat sungguhan tapi singkatan dari PEranakan JAwa BATak. Papa saya orang Batak, Mama saya orang Jawa. Sebagai wanita, setengah mati saya pengen diwarisi kecantikan Mama, tapi apa daya wajah saya dominan Papa. Tak apalah yang penting baik hati, manis, ngangeni dan banyak rejeki. Amiin.
Dua. Jaman masih SD, saya sering berebutan membaca Panjebar Semangat dengan Mbah Nari, ibu-nya Mama. Itu majalah berbahasa Jawa halus untuk ukuran Jawa Timur sebelah timur yang sehari-harinya dominan berbahasa Madura. Bergairah menamatkan komik-komik RA Kosasih tentang Bharata Yudha, Ramayana, Parikesit dan lain-lain. Hobby menonton wayang orang dan ketoprak di TVRI, atau mendengarkan wayang kulit di radio. Suka banget mengkhayal jadi Srikandi yang berharap dicintai Arjuna, tapi tak tahu bagaimana merebut perhatiannya dari Woro Sembodro. Kok berasa curhat ya. Hahaha. Eh, saya masih pingin sekali nonton wayang air yang dari Vietnam itu. Kabuki juga. Yang live, ya. Ada yang mau nonton bareng?
Tiga. Saya mengoleksi buku. Itu harta saya yang berharga. Jumlah kardus buku yang dibawa ketika pindahan dari Gresik ke Jakarta jauhhhh lebih banyak daripada koleksi pakaian saya yang tak seberapa. Tentu saja, membaca itu hobby utama. Kemanapun saya pergi, selalu ada bahan bacaan di tas. Saya membaca di mana saja dan kapan saja. Pernah suatu malam di angkot Gresik-Surabaya yang penuh sesak dan minim penerangan, saya nyempil di ujung belakang, membuka buku setebel bantal, melanjutkan membaca sambil menggigit handphone lipat yang berfungsi sebagai senter. Oh ya, saya sedia tissue juga kok kalo iler saya tidak tertahan. Jijay? Iya juga kalo diingat-ingat. Heeee.
Empat. Saya suka menari. Kalau dengar suara musik, saya pasti goyang-goyang ikut irama. Dulu, kursus saya yang pertama ya menari. Waktu itu kursus dari umur lima tahun sampe dua SD. Seterusnya selalu jadi penari tradisional di karnaval tahunan SD dan SMP. Karnaval yang selalu diadakan memperingati hari proklamasi kemerdekaan di Lumajang. Pernah jadi maskot karnaval dangdut selama dua tahun. Kelas satu dan dua SMA. Dangdut boooo...hahaha. Tidak menari lagi sejak masuk kuliah sampai sekarang. Eh, tapi pernah menang juara pertama lomba joged-duet di kantor pusat pas awal pegawai baru. Hadiahnya seratus ribu. Sekarang sih, sudah ndak luwes lagi. Dihambat lemak.
Lima. Saya tak punya warna paling favorit, tapi saya menyukai ungu dan hijau. Biar kata orang ungu itu warna janda, buat saya ungu itu warna yang 'saya' banget. Campuran dari merah yang bergelora dan biru yang adem. Persis seperti saya: terlihat adem di luar, pecicilan di dalam. Ya kan, ya kan?
Enam. Saya tidak suka ulat bulu! Apalagi yang warnanya hitam dan guede. Membayangkannya saja sudah merinding. Hiiiii! Apalagi kalo ulatnya gerak-gerak terus melenting ke arah saya. OH NOOOOOO!!!! Eh, ulat bulu bisa melenting gak sih?
Tujuh. Saya gagap fashion. Bukannya tidak mengerti apa yang sedang in saat ini, tapi memang tidak mengikuti mode. Berpakaian buat saya asalkan nyaman, sopan, rapi dan bersih, sudah cukup. Saya merawat kulit, tapi tidak menghiasnya. Merasa tidak pandai. Punya perabotan lenong buat berhias, tapi seringkali kadaluarsa karena tak terpakai. Aneh saja kalo melihat wajah saya diwarna-warnai. Kok kaya banci yaaaaa. Hehehe.
Delapan. Jaman masih kuliah, pernah eh sering disangka laki-laki. Banyak cewek ABG yang kepergok curi-curi pandang sambil tersipu-sipu malu ketika saya sedang naik motor, naik angkot atau jalan dengan teman-teman. Rambut panjang gondrong ndak beraturan, kaos t-shirt hitam, kemeja flanel atau jaket kain coklat banyak kantong, jeans belel sobek-sobek di paha, cara jalan yang ndak kemayu, dan wajah yang ganteng (kata sahabat saya Ucik)? Entahlah. Saya pernah di-klaim mirip Fadly Padi waktu itu. Hahaha. Sampai sekarang ndak habis mengerti di mana miripnya. Coba nasibnya mirip ya. Ngarep.
Sembilan. Saya kurang suka dipuji. Bikin saya salah tingkah dan mati gaya. Tapi saya suka sekali waktu sahabat kuliah saya yang shalehah, cantik, pinter dan baik hati; Mona; memberi saya julukan: pelangi. Dia bilang saya cantik seperti warna-warni pelangi. Haduhhhh, saya masih suka blushing lho kalo inget itu. Kalau kalian pengin muntah? Gak apa deh. Hahaha. Oh ya, saya risih kalo ada cowok yang sedang pedekate manggil saya 'dik Rona'. Tapi pengen suatu saat dipanggil mesra pakai panggilan itu. Ehem.
Sepuluh. Saya dilarang keras diam. Wajah saya seram dan menampakkan aura galak kalau bibir saya datar. Apalagi kalo dahi saya mengkerut dan alis saya yang tebal itu bertemu. Harus banyak-banyak tersenyum dan tertawa. Karena itu saya rajin ngomong, ngomel, ketawa-ketiwi dan berekspresi lucu. Ah, kalau itu sih emang bawaan bayi. Akibatnya, kalau butuh berpikir serius saya harus menjauh dari orang-orang. Nasib.
Lho, sudah sepuluh ya? Wah, kurang nih. Kurang! Apakah itu tanda saya narsis? Sepertinya begitu. Mwahahaha....maaf, maaf. Selama narsis tidak terhitung dosa, saya terpaksa melestarikannya. Hohoho.
Ok, Pe-Er sudah saya kerjakan. Gimana? Masih Jaim gak? Kira-kira dapat nilai berapa ya? *Berasa sekolah lagi*
(ini awardnya...senangnya ^^)
perubahan itu pasti | berubah itu pilihan | pastikan pilihan, genapkan lingkaran | live the life to the fullest |
Juli 08, 2011
Juni 24, 2011
Iseng
Saya mau upload foto hasil iseng saya kemaren ahhhh. Saat saya kumat, kata temen-temen seruangan. Sekarang sih masih iseng. Eh,tinggal sisa-sisa ding. Lah buktinya iseng upload-upload segala *hahaha*.
Jadi, kemaren siang teman dari tim 5S (tim benah-benah ruangan kata saya hehe) membagikan desk plate baru ke masing-masing pegawai. Desk plates itu harus diisi foto, nama pemilik meja, layout meja dan keterangan apakah yang bersangkutan ada, sakit, cuti, dan lain-lain.
Desk plate saya yang lama seperti ini:
Pada desk plate yang baru nantinya, diharapkan masing-masing memajang foto diri yang wajar macam di name tag seperti berikut:
Tapi karena kemarin saya iseng dan baut di kepala pada longgar semua seperti kata teman-teman seruangan, maka saya cuek-cuek saja bikin desk plate saya menjadi seperti ini:
Ya, saya pasang foto yang sama seperti di profile picture facebook dan blog saya saat ini. Dibawah nama tidak saya cantumkan posisi jabatan tapi kata : pejalan sunyi *hahahaha*. Ndak ada kesan berwibawa dan ndak ada kesan jaim-jaimnya. Emangnya penting gitu? Ndak kan...yang penting saya puas *hahahaha*.
Saya ingin tahu sampai kapan keiisengan saya ini bertahan. Setidaknya sampai teman dari tim 5S menyuruh menggantinya *hehehe*. Kalau rekanan sih biarin aja, toh mereka sudah paham dengan segala kegilaan saya *hahahaha*. Eh, tapi saya ndak sendiri ding. ABK saya, yang juga partner in crime saya di kantor ... melakukan hal yang sama *hahaha*. Cekidot :
Jadi, kemaren siang teman dari tim 5S (tim benah-benah ruangan kata saya hehe) membagikan desk plate baru ke masing-masing pegawai. Desk plates itu harus diisi foto, nama pemilik meja, layout meja dan keterangan apakah yang bersangkutan ada, sakit, cuti, dan lain-lain.
Desk plate saya yang lama seperti ini:
Pada desk plate yang baru nantinya, diharapkan masing-masing memajang foto diri yang wajar macam di name tag seperti berikut:
Tapi karena kemarin saya iseng dan baut di kepala pada longgar semua seperti kata teman-teman seruangan, maka saya cuek-cuek saja bikin desk plate saya menjadi seperti ini:
Ya, saya pasang foto yang sama seperti di profile picture facebook dan blog saya saat ini. Dibawah nama tidak saya cantumkan posisi jabatan tapi kata : pejalan sunyi *hahahaha*. Ndak ada kesan berwibawa dan ndak ada kesan jaim-jaimnya. Emangnya penting gitu? Ndak kan...yang penting saya puas *hahahaha*.
Saya ingin tahu sampai kapan keiisengan saya ini bertahan. Setidaknya sampai teman dari tim 5S menyuruh menggantinya *hehehe*. Kalau rekanan sih biarin aja, toh mereka sudah paham dengan segala kegilaan saya *hahahaha*. Eh, tapi saya ndak sendiri ding. ABK saya, yang juga partner in crime saya di kantor ... melakukan hal yang sama *hahaha*. Cekidot :
Juni 23, 2011
Rindu Kembali Sunyi
Itu status yang saya pasang di YM sampai jam kantor berakhir hari ini. Saya rindu kesunyian. Pengakuan yang rasanya kebalikan dari tingkah polah saya seharian ini. Sedari pagi memutar lagu What the Hell-nya Avril Lavigne berulang-ulang, terkadang menyanyikannya keras-keras di bagian reffrainnya, mengomentari dan ngomelin segala-segala, ngisengin temen-temen, joget-joget, sampai puncaknya sore tadi mempuisikan segala omongan saya. Teman seruangan bilang saya kumat dan bertanya-tanya apa gerangan yang sedang terjadi pada saya.
Sebenarnya itu status kedua saya di YM. Paginya saya memasang status: numb. Mati rasa. Saya merasa hati dan pikiran saya hari ini seperti wadah yang terlalu penuh isinya sehingga tak bisa merasai yang lain.
Saya bilang ke Danan lewat chatting-an bahwa saya tiba-tiba rindu suasana ramadhan. Saya rindu berangkat tarawih memakai mukena dari rumah. Saya rindu berlari-lari menghindari genangan dan percikan air hujan di kaki saya ketika berangkat atau pulang tarawih. Saya rindu suara muadzin, imam atau orang mengaji dari musholla dan masjid. Saya rindu berebutan nasi berkat hantaran dari tetangga. Saya rindu duduk diam di pelataran masjid, menatap senja, menunggu maghrib dan waktu berbuka puasa tiba. Saya rindu saya yang tidak memikirkan apa-apa kecuali damai dan kegembiraan ramadhan. Saya rindu sunyi yang saya rasa ketika saya berdua saja dengan-Nya.
Semalam, lewat gagang telepon, berjam-jam saya menyediakan telinga dan hati saya mendengarkan curhatan sahabat lama. Saya lebih banyak diam mendengarkan tangisannya, kisahnya, doanya, deritanya. Saya kehilangan kata-kata. Saya shock. Saya tidak pernah menyangka akan mendapati kisah-kisah sedih sinetron itu terjadi pada sahabat saya. Saya yang marah dan sedih tapi tidak tahu harus berbuat apa selain mendengarkan dan mendoakan kebaikan untuknya. Saya yang tidak berdaya.
Saya stress mungkin ya? Karena itu seharian saya berisik dan banyak tingkah. Saya tidak bisa membagi semua curhatan sahabat-sahabat saya itu kepada siapapun. Saya menyerap dan menyimpannya sendiri. Sendiri. Saya tidak keberatan, sungguh. Walaupun seringkali ketika badan kurang fit dan pikiran overload dengan masalah-masalah lain, saya rindu saat semua baik-baik saja. Saya rindu sendirian saja, merasai damai dan sunyi bersama-Nya. Saya cuma manusia biasa.
Sebenarnya itu status kedua saya di YM. Paginya saya memasang status: numb. Mati rasa. Saya merasa hati dan pikiran saya hari ini seperti wadah yang terlalu penuh isinya sehingga tak bisa merasai yang lain.
Saya bilang ke Danan lewat chatting-an bahwa saya tiba-tiba rindu suasana ramadhan. Saya rindu berangkat tarawih memakai mukena dari rumah. Saya rindu berlari-lari menghindari genangan dan percikan air hujan di kaki saya ketika berangkat atau pulang tarawih. Saya rindu suara muadzin, imam atau orang mengaji dari musholla dan masjid. Saya rindu berebutan nasi berkat hantaran dari tetangga. Saya rindu duduk diam di pelataran masjid, menatap senja, menunggu maghrib dan waktu berbuka puasa tiba. Saya rindu saya yang tidak memikirkan apa-apa kecuali damai dan kegembiraan ramadhan. Saya rindu sunyi yang saya rasa ketika saya berdua saja dengan-Nya.
Semalam, lewat gagang telepon, berjam-jam saya menyediakan telinga dan hati saya mendengarkan curhatan sahabat lama. Saya lebih banyak diam mendengarkan tangisannya, kisahnya, doanya, deritanya. Saya kehilangan kata-kata. Saya shock. Saya tidak pernah menyangka akan mendapati kisah-kisah sedih sinetron itu terjadi pada sahabat saya. Saya yang marah dan sedih tapi tidak tahu harus berbuat apa selain mendengarkan dan mendoakan kebaikan untuknya. Saya yang tidak berdaya.
Saya stress mungkin ya? Karena itu seharian saya berisik dan banyak tingkah. Saya tidak bisa membagi semua curhatan sahabat-sahabat saya itu kepada siapapun. Saya menyerap dan menyimpannya sendiri. Sendiri. Saya tidak keberatan, sungguh. Walaupun seringkali ketika badan kurang fit dan pikiran overload dengan masalah-masalah lain, saya rindu saat semua baik-baik saja. Saya rindu sendirian saja, merasai damai dan sunyi bersama-Nya. Saya cuma manusia biasa.
Juni 19, 2011
Subuh Itu
Subuh itu, seharusnya tak usah kuintip saja doamu. Karenanya kubawa cermin melewati hari-hari. Kudekap erat-erat di dalam hati. Semata-mata agar aku yakin, tak mungkin sayap tumbuh dipunggungku.
Subuh itu, kau meminta bidadari surga kan? Seharusnya memang tak usah kuintip saja doamu.
Subuh itu, kau meminta bidadari surga kan? Seharusnya memang tak usah kuintip saja doamu.
Langganan:
Postingan (Atom)

