Pages

Agustus 24, 2005

BEGITU INDAH

Kondisi jalur tol Surabaya – Gresik bagi yang pernah melewatinya atau yang terbiasa melewatinya pastilah menuai banyak kritikan. Pertama, antrian panjang di pintu tol pada jam-jam sibuk pagi dan sore yang seringkali terjadi karena dari empat pintu tol hanya dibuka dua atau malah sebiji (!) padahal volume kendaraan melimpah. Lalu kondisi jalan yang tambal sulam karena tiada hari tanpa perbaikan. Ditambah lingkungan sepanjang tol yang kering kerontang karena sejauh mata memandang hanya akan tampak tambak garam, pabrik, gudang, area pembuangan sampah. Belum lagi puluhan truk, trailer, bus atau kendaraan berat beroda minimal 8 buah yang hilir mudik di sepanjang jalur ini. Kesimpulannya: tidak nyaman baik bagi pengendara maupun penumpang (terutama untuk yang kendaraannya tidak memakai pengkondisi udara alias AC).

Tiga tahun hilir mudik dari Surabaya – Gresik – Surabaya: pagi dan sore, membuatku kebal dengan segala kondisi yang terhampar di sepanjang jalan tol. Asalkan tidak panas, tidak gerah dan bisa balik ke Surabaya dengan cepat (baca: nebeng gratis), itu sudah cukup buatku. Seingatku jarang kulihat pemandangan yang menyejukkan mata apalagi hati. Jarak yang terbentang kuhabiskan dengan ngobrol atau becanda dengan teman-teman, baca buku, pasang walkman, atau tidur. Pemandangan apalagi yang bisa kau harapkan sepanjang jalur tol Surabaya – Gresik? Selain tambak, gudang, pabrik?…

Tapi, hari Sabtu kemarin ada yang berubah. Perjalanan Surabaya ke Gresik memberiku pemandangan yang berbeda. Pemandangan daratan yang tersaji masih sama seperti biasanya. Tapi tidak dengan pemandangan langit diatasnya. Dua kali aku mendapatinya.

Pertama….

Sore itu cuaca cerah. Matahari yang hampir tenggelam menyisakan larikan cahaya merah jingga di antara gugusan awan di sebelah kiriku. Indah. Pemandangan yang sesungguhnya biasa-biasa saja karena banyak ditemui di tempat dengan view yang lebih bagus. Yang membuatnya istimewa adalah…karena cahaya merah jingga di antara gugusan awan itu dalam penglihatanku membentuk suatu pemandangan yang luar biasa.

Pernah berdiri di atas puncak bukit atau gunung dan melihat view di bawah? Seperti itulah sudut pandang yang kudapat. Aku, duduk di dalam taksi, tapi yang kurasakan seperti aku sedang berdiri atau melayang di atas sebuah tempat yang tinggi, tinggi sekali dan sedang melihat ke bawah…ke hamparan gunung dan perbukitan dibawahku yang tersusun dari larikan cahaya merah jingga. Aku merasa kecil, kecil sekali…karena pemandangan itu menurut perasaanku besar dan luas. Asli, aku terpesona dengan perasaan campur aduk antara nggak percaya (ucek2 mata) dan haru (nahan2 tangis plus ngelus dada karena jaim ama supir taksi).

Kedua…

Malam harinya, sepulang dari Gresik, pada jalan tol yang sama, sekali lagi aku menyaksikan sebuah keindahan yang lain. Aku, duduk diam di belakang taksi yang kutumpangi sambil menikmati alunan musik. Lagu-lagu oldies yang lembut. Malam itu langit cerah dan tak berawan. Bulan purnama masih menyisakan ¾ bentuknya. Sepanjang jalan gelap gulita karena tidak ada lampu dan tak ada kendaraan yang melintas. Yang ada hanya bayangan pohon di pinggir jalan. Biasa saja. Tapi jadi tidak biasa ketika aku dengan iseng menempelkan pipiku di kaca dan melihat ke luar. Sekali lagi aku tertegun, diam. Bulan di atas, pantulan sinar bulan di permukaan air tambak, bayangan pohon yang berlarian, kerlip lampu yang membentuk garis dikejauhan, gelap di sekitar, bersama membentuk suatu pemandangan ‘hitam’ yang indah. Begitu tenang, dan menentramkan. Aku yang terhanyut tiba-tiba merasa seperti terlempar dan menemui kemegahan dalam kegelapan yang begitu pekat dan tak bertepi. Semua gelap dan aku menyatu dalam gelap. Aku hilang dan yang tersisa hanya kegelapan. Subhanallah…

Dua kali dalam kurun waktu 4 jam aku disajikan pemandangan semegah itu. SEMEGAH ITU. Apa makna dibalik semuanya? Aku tidak tahu….Aku tidak tahu…

Yang dapat kutangkap hanyalah bahwa Allah itu Maha Besar.
Bahwa aku bukan siapa-siapa.
Seharusnya, tak ada yang perlu kukuatirkan, kutakutkan, kuresahkan, jika aku hanya berlindung pada-Nya.
Subhanallah…
Astaghfirullah…

Pemandangan itu masih sama, hanya saja sekarang aku melihatnya dengan cara yang berbeda.


(Inikah jawaban dari semua pertanyaan ketika tantangan menghadang di depan. Seharusnya tak ada yang perlu kukuatirkan…)

1 komentar:

wie mengatakan...

sebuah karunia yg tdk dimiliki setiap manusia :) including me.
Mungkin itu sebabnya aku g bisa benar2 merasakan cerita Kimya ya mbak. hehe ..

Half Purple and Blue Butterfly