Pages

Januari 23, 2011

Dalam Hujan, Aku Menunggu

Jumat, 21 Januari 2011. Pukul sepuluh pagi lebih sedikit. Trotoar jalan Gunung Sahari, dekat terminal Senen.

Hujan lebat sedari pagi menciptakan sungai kecil di pinggiran jalan. Payung putih yang kugenggam tak mampu menyelamatkan ujung rok dari percikan hujan. Dingin; sementara bis patas AC Senen - Cibinong yang kutunggu tak juga muncul. Sudah lebih dari setengah jam aku menunggu. Sendiri.

Hari ini aku cuti dari kantor. Dan seharusnya pagi ini aku di rumah: ngobrol dengan mama, tante Tin dan Arief, setelah kamis malam kami sibuk dengan acara seratus hari kepergian Mimi. Kabar tante Ji yang masuk ICU di Pasuruan memaksaku ke Gambir pagi-pagi. Mencari tiket kereta api Argo Anggrek jumat malam untuk tante Tin setelah usulan untuk terbang ditolak: "Tante belum pernah naik kereta eksekutif yang ke surabaya, Nduk. Kepingin".

Tiket sudah tersimpan rapi di tas kecil yang kudekap erat dekat dadaku. Payung putih kecil ini hanya mampu menjaga tubuh bagian atasku dari percikan hujan. Kakiku mulai kedinginan, tapi aku tak berani berteduh di warteg kecil dan sempit pinggiran jalan itu. Tak ada perempuan di sana kecuali ibu penjualnya, dan aku termakan pikiranku sendiri. Wajah lusuh dan tak bersahabat para pekerja dari terminal Senen cukup menciutkan nyaliku.

Untunglah bau harum pandan di adukan nasi putih ibu warteg cukup menghiburku. Campuran harum pandan dan segarnya hujan membawa ingatanku ke hari saat pertama kali aku pulang ke Cibinong lewat Jakarta, dari Surabaya. Tempat yang sama, dengan kondisi berbeda. Saat itu juga masih pagi, pada jam yang hampir sama. Dengan tas dan bawaan yang berat, aku menunggu satu jam lebih dibawah sinar matahari yang mulai terik. Menunggu bis yang sama: patas AC Senen-Cibinong.

Sepuluh tahun lebih telah berlalu dan aku masih menunggu bis yang sama, di tempat yang sama, sendiri. Ingin tertawa, tapi takut disangka gila saat berpikir: "Nasib menunggu bis ini bisa kan kau analogkan dengan menunggu belahan jiwamu itu? Tahun demi tahun berlalu dan Kau masih menunggu bis yang sama? setelah segala terik dan hujan badai itu Kau lewati? Sampai kapan Kau menunggunya datang dan menyelamatkanmu dari global warming?".

Satu cengiran pada diri sendiri, dan tukang bajaj yang parkir didepanku memandang heran. Dalam hati berkata:" Ya, Pak...Saya memang aneh. Suka ngomong ama diri sendiri...hahaha..."

Banyak kendaraan lalu lalang. Cukup banyak kendaraan pribadi, tetapi sebagian besar angkutan umum: angkutan kota, metromini, bajaj, bis dan lain-lain. Hampir satu jam berdiri dan sudah lewat empat kali bis patas Mayasari warna hijau jurusan Senen-Bekasi Timur. Bus-nya besar, sepertinya ber-AC, penampakan masih baru-baru: melintas kencang didepanku. Lelah menunggu, aku sempat berandai-andai: "Kalau saja bis Senen-Cibinong sebagus dan sebanyak itu. Hmm, kalau aku nekad naik bis itu kira-kira nyampe ke cibinong gak ya?". Pertanyaan bodoh yang tak perlu dijawab, tentu saja.

Aku sadar, sebagus apapun bis hijau  itu takkan membawaku ke Cibinong. Kalau aku nekad naik, aku boleh manyun sesampainya di Bekasi Timur. Jadilah aku tetap menunggu bis Senen-Cibinong datang, dalam hujan lebat: basah, dingin, di bawah payung putih, di trotoar jalan Gunung Sahari, dekat terminal Senen.
"menerimamu serupa bis hijau itu, sungguh meringankan hatiku. kau tak mungkin merubah trayekmu, kan? kau juga tak mungkin mengijinkanku ikut. tak apa, nanti kalau kau lewat lagi, aku sudah tahu bagaimana seharusnya bersikap. kubantu kau membereskan jalanan, supaya kau cepat dan selamat sampai tujuan .... aku berharap bahagiamu, sungguh."

6 komentar:

Enno mengatakan...

aku jd kangen jakarta... kangen nunggu bus di terminal senen yg ruwet

:P

rona mengatakan...

Ayooo main ke jakarta, No. Senen dan segala keruwetannya emang selalu bikin kangen hehe. Kayanya mesti balik ke senen...mo nyari komik nih :p.

dian mengatakan...

sebenernya bisa sih ron kau naik segala bis yang ada. tp entar musti oper lagi :p
tinggal pilih mana, nunggu agak lama ato oper :D

rona-nauli mengatakan...

@Enno: mainlah ke Jakarta, No...kayanya kau butuh banget ya. aku sendiri juga berniat ke senen lagi, nyari komik bidadari merah edisi lama yang kurang lengkap hehehe

@Dian: aku tunggu sajalah...oper menghabiskan energi sajah :p

May mengatakan...

wahh.. sudah kenalan sama mbak Enno ya.. :x

May mengatakan...

analogi yang baguss.. mudah2an 'bis' idaman hati sesuai trayek tujuan segera tiba, amiin :)

Half Purple and Blue Butterfly