"Li!"
"Hmm..."
"Li, kenapa sih mau temenan sama aku?"
"Lah kamu kenapa juga mau temenan sama aku?"
"Uli hodob! Ditanya malah nanya!"
"Lah kamu juga kenapa tanyanya aneh-aneh."
"Karena yang lain ga ada yang mau temenan sama aku ya?"
"Kayanya gitu, Cik..."
"Uli nyebelin!"
"Emang..."
...
Dari awal pertama berkenalan, tidak pernah terbayangkan kebersamaan kami akan melewati angka 17 tahun. Seandainya sebuah usia pernikahan, mungkin kami sudah punya anak abege gadis atau bujang. Sayangnya, saya ndak berniat naksir atau menikah dengan Ucik, sahabat saya itu *hehehe*.
Donna yang mengenalkan saya pada Ucik pas awal masuk kuliah di Unair dulu. Persis setelah acara penataran P4 selesai *ketahuan deh jadulnya*. Awalnya saya heran, kok bisa ya Donna yang buawel binti antik bin ajaib bin gaul itu kemana-mana dikuntit makhluk pendiam ga gaul berwajah pucat kotak dan jutek. Persis asisten pribadinya. Setelah agak lama mengenalnya, saya baru ngeh kalo kejutekan itu disebabkan karena Ucik sebal kebawelan Donna *gitu kok ngintil terus...huahahaha*.
Ucik itu teman tidur saya sejak 17 tahun yang lalu. Lho ya, jangan pada ngeres bacanya. Maksudnya itu, kami resmi jadi teman kost sekamar beberapa bulan setelah berkenalan. Dilanjut pindah kontrakan setelah selesai kuliah dan bekerja (tetap di Surabaya), bahkan sampai saya pindah kerja ke Bekasi. Kami hanya sempat terpisah selama setahun. Sekarang dia kerja dan kost di Tanggerang tetapi setiap Jumat malam pasti kabur ke Bekasi sampai Senin pagi *hehehe*.
Yang saya heran sampai sekarang, jaman awal kuliah dulu Ucik kok rela ya meninggalkan kostnya yang mewah nan nyaman itu demi kost di kamar saya yang asli mirip pagupon (rumah burung dara): sekitar 2 x 3 m2, terletak di atas dua kamar mandi, lantai papan kayu beralas terpal plastik, dipan susun, dua meja tanpa kursi, tanpa lemari (lemari diletakkan di depan pintu kamar) dan berjendela kawat ram kecil yang menghadap ke genteng langsung. Kamar yang jika sedang diisi oleh enam sekawan menyebabkan penghuni kost lain tak berani ke kamar mandi karena takut keambrukan. Kamar yang pernah menyajikan pemandangan selepas tidur siang: kucing pipis persis di genteng depan jendela kawat ram! *hahahaha*
Ucik dan saya berbeda 180 derajat. Kesamaan kami cuma jalan-jalan dan makan-makan: bersenang-senang. Selebihnya, berbeda. Dia itu cenderung pendiam, menarik diri, ndak pedean. Sedangkan saya suka ngomong, over pede dan cenderung tak tahu malu. Ibarat lilin dan mercon bumbung. Dia feminim, saya agak macho. Dia pengalah dan ga enakan, saya keras kepala dan hajar saja. Dia resik dan rapi, saya slebor. Dia hemat, saya boros. Dia pinter masak, saya pinter makan. Dia sekutu Mama, saya yang ngerusuhi Mama. Dia seleranya Heidy Yunus, saya pilih Gerald Buttler saja *hehehe*.
Saya tak tahu apa yang membuatnya tetep lengket pada saya. Padahal selama ini saya sudah sering semena-mena dan merugikannya. Jaman kuliah, saya tak pernah mau meminjamkan jawaban tugas apapun kepadanya. Tidak pernah mau berdiskusi atau membantunya mengerjakan tugas atau skripsi sebelum dia menguasai bahannya. Membongkar seenaknya file presentasi skripsinya semalam sebelum sidang. Menularinya virus tak suka dandan. Mencekokinya dengan konser musik di mana saja dan kapan saja. Meminjam uang tabungan berharganya demi uang kuliah dan skripsi dengan jaminan pengembalian nanti selepas kerja yang entah kapan. Sekarang, seringkali menyuruh-nyuruhnya cuti demi menemani saya jalan-jalan. Membuatnya wira-wiri ke Bekasi setiap akhir pekan. Dan lain-lain, dan lain-lain. Belum lagi tuduhan kami tak normal, dari keluarga besar pihak bapaknya *hadehhhhh*.
Saya merasa tak banyak yang sudah saya lakukan untuknya, sedangkan dia selalu ada untuk saya dalam suka dan duka. Herannya, bukannya saya yang harusnya bertanya mengapa dia bertahan berteman dengan saya. Seringkali malah Ucik yang bertanya mengapa saya bertahan berteman dengannya. Pertanyaan yang seringkali saya jawab seenaknya seperti dialog di atas. Padahal pada kenyataanya ya tidak begitu. Saya boleh jadi adalah tempat curhat teman-teman kami, tapi siapapun yang mengenalnya secara langsung pasti cenderung lebih suka berdekatan dengannya. Sudah lama pertanyaan itu tidak diajukannya lagi. Persisnya setelah saya memberinya jawaban berbeda suatu ketika lewat tulisan di wall akun facebooknya, seperti ini:
"anonymous said that friendship isnt how u forget but how u forgive, not how u listen but how u understand, not what u see but what u feel, and not how u let go but how u hold on ... soooo, it's all about how YOU forgiving, understanding, feeling, and holding ME .... MENGERTI gak? oh ya, satu lagi...karena kau keukeuh maksa aku naik angkot padahal aku punya duit lebih buat naik taksi :)) ..."
...
Buat Ucik yang saya tahu pasti adalah silent reader blog saya ini, yang selalu bertanya bagaimana cara komen tapi selalu saya cuekin *hehehe*:
Ucik jelekkkkkkkkkkkkkkkkkk....Selamat Merayakan Hari Jadi, ya. Aku sueneng karena setiap tanggal 21 September adalah saat-saat pembuktian bahwa kau setahun lebih tua dariku. Setidaknya sampai dua bulan mendatang wkwkwkwkwk....
Oh ya, kejutan!
Ini tak kasih kado kain batik tiga negeri koleksiku yang udah kau ecesin dari awal ngeliat. Mau-mu jadi kado nikahanmu, toh? Tak kasih sekarang saja, ya. Siapa tau bisa jadi pancingan datangnya pak penghulu :)).
Eh, btw...batik itu sejak dari awal emang kubeli buatmu. Ambil di Bekasi minggu depan. Kalo kau tak baca postingan ini n melewatkan memintanya dariku, berarti bukan rejekimu :)). Aku kan malas sms n telephone selamat selamatan :p