Pages

September 23, 2011

Selepas Subuh Hari Ini

Selepas subuh hari ini, pikiran saya melayang kemana-mana. Dipicu sesuatu hal sedih yang menimpa kawan. Hal yang tak ingin saya jadikan beban, tapi alam bawah sadar sudah terlanjur merekam. Mungkin karena saya mencoba mendudukkan diri pada posisinya, untuk mengerti rasa menelan pil pahit yang tak diinginkan. Dan ingatan memanggil beberapa kisah yang hampir senada: kisah saya dan beberapa kawan lain. Kisah hati yang meminta keadilan karena tersakiti, yang berujung tanya mengapa terjadi pada kami. Alih-alih bertanya mengapa bisa terjadi, saya malah bertanya-tanya mengapa semua kisah itu terjadi setelah masing-masing melewati satu titik balik dalam hidup yang intinya adalah mencoba berjalan lurus, kembali pada-Nya.

Satu bagian surah yang tak teringat jelas, melintas-lintas di kepala: tentang ujian bagi mereka yang berikrar, mereka yang bertaubat, mereka yang mengaku beriman. Segera saja saya melipat sajadah dan menyalakan laptop, meminta mbah Google mencari yang diinginkan. Beberapa link, beberapa artikel, beberapa kajian sebelum saya termenung-menung. Dan pagi ini, saya memulai hari dengan mencamkan baik-baik isi serangkaian angka ini = 29: 2-3; 2: 216; 31: 34.
...
"Adakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan saja oleh Allah untuk menyatakan  "aamannaa" (kami telah beriman) padahal kami belum lagi memberikan ujian kepada mereka. Sungguh telah kami uji ummat sebelum mereka, dengan ujian itu jelaslah oleh kami siapa yang benar pengakuan keimanannya dan siapa pula yang dusta" (QS 29:2-3)

"Boleh jadi kamu sangat tidak menyukai peristiwa yang menimpa diri kamu, padahal itu sangat baik sekali bagimu. Boleh jadi sesuatu itu yang sangat kamu sukai, padahal sesuatu itu yang sangat tidak baik bagi kamu. Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui, kalian tidak tahu apa-apa" (QS 2:216).

"Tidak ada satu jiwa pun yang bisa mengetahui apa yang akan terjadi besok" (QS 31:34).
 ...
Saya tak tahu apakah cara berpikir saya benar, apakah konteks permasalahan selaras dengan angka-angka itu. Saya hanya ingin berbagi saja. Hanya ingin meringankan beban. Ambil manfaatnya, maafkan jika didalamnya ada kesalahan, ingatkan jika ada yang tak benar. Saya yang terbatas ilmu pengetahuan ini, yang masih harus banyak belajar dari sekolah kehidupan ini, ingin lulus dengan gemilang bersama teman-teman.

September 21, 2011

Antara Aku, Ucik dan Tiga Negeri

"Li!"
"Hmm..."
"Li, kenapa sih mau temenan sama aku?"
"Lah kamu kenapa juga mau temenan sama aku?"
"Uli hodob! Ditanya malah nanya!"
"Lah kamu juga kenapa tanyanya aneh-aneh."
"Karena yang lain ga ada yang mau temenan sama aku ya?"
"Kayanya gitu, Cik..."
"Uli nyebelin!"
"Emang..."
...

Dari awal pertama berkenalan, tidak pernah terbayangkan kebersamaan kami akan melewati angka 17 tahun. Seandainya sebuah usia pernikahan, mungkin kami sudah punya anak abege gadis atau bujang. Sayangnya, saya ndak berniat naksir atau menikah dengan Ucik, sahabat saya itu *hehehe*.

Donna yang mengenalkan saya pada Ucik pas awal masuk kuliah di Unair dulu. Persis setelah acara penataran P4 selesai *ketahuan deh jadulnya*. Awalnya saya heran, kok bisa ya Donna yang buawel binti antik bin ajaib bin gaul itu kemana-mana dikuntit makhluk pendiam ga gaul berwajah pucat kotak dan jutek. Persis asisten pribadinya. Setelah agak lama mengenalnya, saya baru ngeh kalo kejutekan itu disebabkan karena Ucik sebal kebawelan Donna *gitu kok ngintil terus...huahahaha*.

Ucik itu teman tidur saya sejak 17 tahun yang lalu. Lho ya, jangan pada ngeres bacanya. Maksudnya itu, kami resmi jadi teman kost sekamar beberapa bulan setelah berkenalan.  Dilanjut pindah kontrakan setelah selesai kuliah dan bekerja (tetap di Surabaya), bahkan sampai saya pindah kerja ke Bekasi. Kami hanya sempat terpisah selama setahun. Sekarang dia kerja  dan kost di Tanggerang tetapi setiap Jumat malam pasti kabur ke Bekasi sampai Senin pagi *hehehe*. 

Yang saya heran sampai sekarang, jaman awal kuliah dulu Ucik kok rela ya meninggalkan kostnya yang mewah nan nyaman itu demi kost di kamar saya yang asli mirip pagupon (rumah burung dara): sekitar 2 x 3 m2, terletak di atas dua kamar mandi, lantai papan kayu beralas terpal plastik, dipan susun, dua meja tanpa kursi, tanpa lemari (lemari diletakkan di depan pintu kamar) dan berjendela kawat ram kecil yang menghadap ke genteng langsung. Kamar yang jika sedang diisi oleh enam sekawan menyebabkan penghuni kost lain tak berani ke kamar mandi karena takut keambrukan. Kamar yang pernah menyajikan pemandangan selepas tidur siang: kucing pipis persis di genteng depan jendela kawat ram! *hahahaha*

Ucik dan saya berbeda 180 derajat. Kesamaan kami cuma jalan-jalan dan makan-makan: bersenang-senang. Selebihnya, berbeda. Dia itu cenderung pendiam, menarik diri, ndak pedean. Sedangkan saya suka ngomong, over pede dan cenderung tak tahu malu. Ibarat lilin dan mercon bumbung. Dia feminim, saya agak macho. Dia pengalah dan ga enakan, saya keras kepala dan hajar saja. Dia resik dan rapi, saya slebor. Dia hemat, saya boros. Dia pinter masak, saya pinter makan. Dia sekutu Mama, saya yang ngerusuhi Mama. Dia seleranya Heidy Yunus, saya pilih Gerald Buttler saja *hehehe*.

Saya tak tahu apa yang membuatnya tetep lengket pada saya. Padahal selama ini saya sudah sering semena-mena dan merugikannya. Jaman kuliah, saya tak pernah mau meminjamkan jawaban tugas apapun kepadanya. Tidak pernah mau berdiskusi atau membantunya mengerjakan tugas atau skripsi sebelum dia menguasai bahannya. Membongkar seenaknya file presentasi skripsinya semalam sebelum sidang. Menularinya virus tak suka dandan. Mencekokinya dengan konser musik di mana saja dan kapan saja. Meminjam uang tabungan berharganya demi uang kuliah dan skripsi  dengan jaminan pengembalian nanti selepas kerja yang entah kapan. Sekarang, seringkali menyuruh-nyuruhnya cuti demi menemani saya jalan-jalan. Membuatnya wira-wiri ke Bekasi setiap akhir pekan. Dan lain-lain, dan lain-lain. Belum lagi tuduhan kami tak normal, dari keluarga besar pihak bapaknya *hadehhhhh*. 

Saya merasa tak banyak yang sudah saya lakukan untuknya, sedangkan dia selalu ada untuk saya dalam suka dan duka. Herannya, bukannya saya yang harusnya bertanya mengapa dia bertahan berteman dengan saya. Seringkali malah Ucik yang bertanya mengapa saya bertahan berteman dengannya. Pertanyaan yang seringkali saya jawab seenaknya seperti dialog di atas. Padahal pada kenyataanya ya tidak begitu. Saya boleh jadi adalah tempat curhat teman-teman kami, tapi siapapun yang mengenalnya secara langsung pasti cenderung lebih suka berdekatan dengannya. Sudah lama pertanyaan itu tidak diajukannya lagi. Persisnya setelah saya memberinya jawaban berbeda suatu ketika lewat tulisan di wall akun facebooknya, seperti ini:


"anonymous said that friendship isnt how u forget but how u forgive, not how u listen but how u understand, not what u see but what u feel, and not how u let go but how u hold on ... soooo, it's all about how YOU forgiving, understanding, feeling, and holding ME .... MENGERTI gak? oh ya, satu lagi...karena kau keukeuh maksa aku naik angkot padahal aku punya duit lebih buat naik taksi :)) ..."
...

Buat Ucik yang saya tahu pasti adalah silent reader blog saya ini, yang selalu bertanya bagaimana cara komen tapi selalu saya cuekin *hehehe*:


Ucik jelekkkkkkkkkkkkkkkkkk....Selamat Merayakan Hari Jadi, ya. Aku sueneng karena setiap tanggal 21 September adalah saat-saat pembuktian bahwa kau setahun lebih tua dariku. Setidaknya sampai dua bulan mendatang wkwkwkwkwk....

Oh ya, kejutan! 

Ini tak kasih kado kain batik tiga negeri koleksiku yang udah kau ecesin dari awal ngeliat. Mau-mu jadi kado nikahanmu, toh? Tak kasih sekarang saja, ya. Siapa tau bisa jadi pancingan datangnya pak penghulu :)).

Eh, btw...batik itu sejak dari awal emang kubeli buatmu. Ambil di Bekasi minggu depan. Kalo kau tak baca postingan ini n melewatkan memintanya dariku, berarti bukan rejekimu :)). Aku kan malas sms n telephone selamat selamatan :p

September 19, 2011

Teori 2.9 Kg

Hari Jumat yang lalu, si cantik Serena diajak Bunda-nya main ke kantor. Usianya kalo ga salah baru 18 bulan. Rambut kriwul dikuncir kuda, mata sipit yang sering ilang kalo tersenyum-tertawa, dandanan matching nang lucu khas anak seusianya, udah bisa berekspresi, udah bisa diajak ngobrol. Ngegemesin. Aunty Rona sukaaaaa ^^.

Eh, yang lain juga suka ding. Termasuk Om Machrif, pastinya. Ini temen kerja Aunty Rona; satu level. Udah termasuk senior. Bapak yang supel, baik, suka becanda dan agak sotoy. Tapi serius juga dan perasa. Kesannya takut menyinggung orang lain gitu. Kombinasi suka becanda, sotoy, serius dan takut menyinggung orang lain ini yang kadang jadi obyek keisengan Aunty Rona. Terutama kalo si Bapak mengucapkan sesuatu yang bias atau bisa dipelesetkan Aunty Rona demi kepentingannya sendiri. Macam jumat siang sebelum shalat Jumat kemaren itu. 

Aunty Rona sedang main-main sama Serena di meja kantor. Tante yang lain kebetulan juga pada kumpul di situ. Om Machrif datang membahas masalah kerjaan sebelum berangkat ke masjid. Kelar diskusi terjadilah pembicaraan ini:

"Ini anak siapa, mbak?"

"Ini Serena, putrinya Bunda dan Bayu....Sheena, sini cium tangan Pakde dulu."

"Cantik ya, mbak..."

"Terima kasih, pak..."

"Serena ini dulu pasti lahirnya 2.9 kg, mbak. Cantik gini. Soalnya sepengetahuan   saya, yang lahirnya 2.9 kg cantik-cantik, mbak...

"Beneran, pak? Wah, terima kasih. Berarti saya cantik juga dong. Secara saya juga 2.9 kg juga."

"................"

"Lho, lho...Pak, mau kemana pak?"

Om Machrif kabur setelah kebingungan mau senyum or ndak, dan Aunty Rona tentu saja ngakak-ngakak girang plus berkoar-koar bangga dengan teori 2.9 kg itu *ehehehehe*
-------------
Begitulah jadinya, kalau fakir pujian sedang kumat isengnya :D

September 16, 2011

Hadap Kiri: Fokus!

Iya, judul postingan ini terinspirasi judul buku Adhitya Mulya dkk yang Traveler's Tale - Belok Kanan: Barcelona!. Entah dimana letak kesamaannya karena saya sedang tidak berniat menuliskan pengalaman traveling yang tak seberapa.

Begini, pulang kantor hari ini saya berencana mampir ke toko buku. Beli peralatan stationery. Belum kepikiran mau beli apa saja. Rencananya saya ingin menuliskan 100 mimpi saya dalam sebuah entah board, karton atau apalah yang berukuran cukup besar. Nantinya, akan saya tempelkan di dinding sisi timur di kamar. Itu artinya setiap kali saya berbaring di kasur dan menghadap ke arah kiri, mimpi-mimpi yang sudah tertulis itu akan menjadi pemandangan yang harus saya lihat.

Hal ini sesungguhnya sudah lama ingin saya wujudkan sejak membaca postingan ini. Kerjaan yang seakan tiada habisnya, manajemen waktu yang kedodoran, atau entah apalah yang membuatnya jadi tertunda. Baru semalam ketika seorang kawan berniat titip membeli buku, saya seperti diberi pencerahan hari inilah saya harus memulainya. Yah, itu bukan satu-satunya alasan juga sih *buang jauh-jauh fakta yang mampir ke telinga rabu sore lalu*. Tapi biarkan saya menyangkalnya dan menjadikan titipan buku itu sebagai alasan utama *hahahaha! parah!*.

Di kepala saya sudah berderet sejumlah mimpi yang akan saya tuliskan. Tapi bahkan sebelum saya memulainya, sudah terasa bahwa mengumpulkan sampai angka 100 (mungkin) bukan pekerjaan yang mudah. Saya akan butuh waktu untuk merenung, melihat lagi blue print hidup yang saya inginkan, mengenali diri jauh ke dalam. Jangan-jangan, di tengah proses menuliskannya saya akan mendapati bahwa ternyata selama ini saya tidak mengenal diri sendiri *keterlaluan! hahahaha*. Ya, setidaknya saya mengambil langkah. Saya akan butuh banyak doa. Sungguh.
hiks, saya lupa darimana gambar ini saya dapatkan. maafkan...

"ketika diri tak kuasa menolak, ketika usaha menisbikannya berujung lara...hanya ini yang bisa dilakukan: mencari kesibukan, membagi fokus"
Half Purple and Blue Butterfly