Pages

November 01, 2011

Sudut Malam

...
" yang 512 fotonya bagus. nyeni..."
" iseng, nungguin yang pada main kartu..."
" kalo fotoku, sudah kupublish dibarengi puisi itu..."
" judule opo..."
" sudut malam...kubikinkan puisi ya, nanti kuedit ama fotonya..."
" iya deh. mana suka diambil..."
...




Sampai sekarang, tak bisa merangkai satu kata-pun menjadi sebuah puisi. Ya, pada dasarnya memang tak pandai membuat puisi *hahaha*. Jadi teringat sebuah karakter di film X-Men yang kutonton di layar televisi dua hari lalu: seorang mutan di laboratorium Alcatraz yang menjadi pemicu ditemukannya serum injeksi penyembuh mutan. Mutan itu punya kemampuan menghilangkan kemampuan mutan yang berada didekatnya. Somehow jadi merasa, ketidakmampuan merangkai kata itu krn aku mutan dan kamu anti mutan itu *ngaco*.
 ...
" ndak bisa merangkai kata. kata2nya ilang. ga bisa buat puisi. maaf ya..."
" biarin aja. gpp..."
"fotonya jadi desktop background :D"
...

pengen sekali bilang: bidang gelap difotomu itu "aku banget"...hiks hiks...


Oktober 31, 2011

Girls Day Out

Kalo kata orang-orang tua, saya harusnya agak prihatin sehubungan kepergian mama berhaji. Membatasi keluar-keluar rumah, membatasi bersenang-senang dan banyak-banyak berdoa. Eeee, tapi gimana ya...saya doa mah jalan terus. Tapi ga boleh bersenang-senang? Itu ukurannya gimana? Tiap orang beda-beda kan? Lagipula cuma liat pameran batik. Itu juga memenuhi undangan sebulan lalu dari toko langganan di Trusmi, Cirebon. Memenuhi janji wajib loh hukumnya. Jadi ya, begitulah....saya dan Ucik menghabiskan Sabtu malam kemarin, nongkrong di stan batik toko langganan itu. Acaranya di ruang Cendrawasih JCC, the 4th KSE atau apalah gitu.

ngabisin cemilan yang disediain...mumpung gratis hehehe

Saya belum pernah cerita ya kalo saya cinta, jatuh cinta, cinta setengah hidup ama batik jauh sebelum UNESCO memutuskannya jadi warisan dunia. Lupa tepatnya sejak kapan, tapi saya rasa pengaruh hobby mantengin or baca cerita wayang kayanya. Pas jaman SMU, ketika teman di pelajaran seni-rupa sibuk menggambar abstrak atau apalah untuk desain cetakan tekstil, saya memilih berjuang sekuat tenaga menggambar motif batik. Saat sibuk mengerjakan skripsi dari satu perpustakaan ke perpustakaan lain (Unair dan Ubaya), saya tak lupa berburu buku-buku tentang batik untuk refreshing. Saya memulai koleksi sejak awal bekerja. Koleksi pertama saya adalah batik Madura motif sekar jagad warna putih coklat tua buatan pengrajin di Tanjungbumi, Bangkalan. Dan sayangnya, sampai sekarang itulah satu-satunya batik Madura koleksi saya. Bertahun-tahun tinggal di Surabaya, saya belum sempat mengeksplor batik Tanjungbumi. Hiks hiks... 

mbak Sesi, pewaris kedua Batik Lia; toko langganan saya di Trusmi

Sejauh ini saya mengagumi sejarah, filosofi dan keanggunan batik Jogja-Solo, warna merah khas batik Lasem, warna dan motif batik Madura yang khas dan berkelas, klasiknya motif batik Indramayu, kesederhanaan motif batik Tuban, warna-warni motif buketan batik Pekalongan. Tapi ya, favorit saya adalah batik Cirebonan. Saya mengagumi keragaman warna, kehalusan garis (wit) dan motif-motif pesisirannya. Seperti umumnya batik pesisiran, batik Cirebonan mendapat banyak pengaruh dari kultur Belanda (buketan kembang, kumpenian), Cina (naga, singa, burung phoenix, kupu), dan Jepang Hokokai (pola pagi sore) selain motif kehidupan sehari-hari di daerah pesisiran. Dan dari semua motif batik Cirebonan, saya sangat menyukai motif mega mendung. Motif yang awalnya hanya dipakai oleh kalangan bangsawan Cirebon, sekarang banyak dijumpai dalam warna-warni yang menawan.

batik tulis motif mega mendung, pesanan mbak Yanti


Kecintaan saya pada batik Cirebon dipicu oleh provokasi Mimi ketika dia menjalankan tugas pra PNS di Cirebon selama sebulan. Pulang ke Jakarta sambil membawa batik-batik cantik berwarna-warni yang langsung membulatkan tekad saya mengunjungi desa pengrajinnya di Trusmi, Cirebon. Akhirnya, sampai sekarang minimal dua bulan sekali saya berkunjung ke sana. Selain untuk refreshing dan wisata kuliner, saya berburu batik untuk koleksi. Terutama motif klasik dan yang tidak biasa (menurut saya). 

Kegiatan ini pelan-pelan saya tularkan ke teman-teman di lingkungan kantor. Kami berangkat hari Sabtu naik KA Cirebon Express pukul 06.00 pagi dan pulang hari yang sama naik KA Cirebon Express pukul 18.15. Biasanya saya ajak mereka naik angkot apa saja di depan stasiun Cirebon ke arah perempatan Grage Mall untuk sarapan nasi jamblang Mang Dul. Selesai makan, naik angkot GP ke arah perempatan Plered, menuju ke desa Trusmi Kulon. Seharian kami ngubek-ngubek toko yang tersebar di daerah itu. Menahan makan siang dengan tahu gejrot atau rumba (pecel) khas Cirebon, sebelum mengakhirkan makan siang pada sore hari di Empal Gentong Amarta. Sorenya, pulang ke Jakarta dengan perut kenyang, hati puas dan kantong tipis. Hahahaha...

bahagia, di antara wangi malam dan warna-warni batik

Di desa Trusmi Kulon ini, saya punya toko langganan yang pasti jadi tujuan utama setiap kali saya berkunjung ke sana. Nama tokonya Batik Lia. Sekian lama ngubek-ngubek daerah ini, saya cocoknya ya nongkrong di toko ini. Koleksi-koleksinya banyak yang nyantol di hati saya. Kalo ada teman-teman yang mau ke sana, dari kota Cirebon menuju ke perempatan Plered, belok kanan ke desa Trusmi Kulon, jalan lurus sampai perempatan kecil, jalan lurus lagi, toko ini ada di sebelah kiri. Kenapa saya mau promosi di sini? Karena Sabtu lalu itu si Ibu pemilik toko berbaik hati memberi saya hadiah batik tulis halus yang cuantik sekali. Hehehe. Eh, tapi sungguh...koleksi batik di sini bagus-bagus kok. Mau bukti? Liat foto berikut deh ^^.

cantik ya batiknya...si uciknya mah kagak huahahaha

batik tulis hasil hunting saya Sabtu lalu...

kalo ada yang berminat, saya rela melepasnya lho...


Hahaha saya jadi nulis banyak gini. Maklumlah, namanya juga cintahhhh *kedip-kedip*. Kalo teman-teman sempat mampir ke Cirebon, sempetin mampir ke Trusmi ya. Batik-batik saya di atas memang yang tulis halus. Kebanyakan untuk koleksi saja. Tapi di sana, banyak juga macam-macam bahan mulai dari yang cap/ print, batik tulis dari beragam kualitas, pakaian jadi dengan beragam corak, warna, model dan harga. Kalau kalian cinta batik, bahkan seandainya belum cinta sekalipun, saya jamin pasti senang berkunjung ke sana. Kalaupun tidak membeli, mata dan hati ini jadi fresh. Setidaknya, itu yang terjadi pada saya. ^^

Oktober 29, 2011

Keledai

Satu minggu ini pikiran saya seringnya penuh dengan keledai. Bukan, saya tidak sedang terpikir mengajukan mereka menjadi opsi pilihan hewan qurban selain kambing dan sapi. Setahu saya itu memang tidak diperbolehkan ya? Saya cuma sedang mikir keledai itu kenapa ya kok identik dengan kebodohan? Lalu juga mikir tentang pepatah atau apalah yang kira-kira bunyinya terasa berlawanan:

'hanya keledai yang jatuh di lubang yang sama dua kali'. 

 dan

'bahkan keledai tidak jatuh di lubang yang sama dua kali'. 

Jadi, sebenernya keledai jatuh gak sih di lubang yang sama dua kali?  Atau jangan-jangan itu dua keledai yang berbeda intelegensia kali ya. Hehehe...mikir kok ndak penting gini. Tapi kira-kira dari keduanya benar gak sih kalo saya simpulkan bahwa hanya manusia bodoh (lebih bodoh dari keledai) yang tidak belajar dari pengalaman sehingga terperosok pada kesalahan yang sama? Hemmm....

Baiklah, memang tak ada asap kalau tak ada api. Saya mikir tentang keledai karena sedang merasa bodoh atau dibodohi. Terancam merasa lagi emosi karena sesuatu yang sama, hanya karena tidak belajar dari pengalaman lalu. Atau karena memang saya yang naif? Entahlah.

Jadi, suatu ketika saya pernah marah. Lebih tepatnya murka. Saya tak suka kalau sampai dalam kondisi begitu, karena saya tahu benar saya jenis orang yang tak takut membakar sekalipun saya ikut hangus terbakar. Untung saya masih bisa meredamnya, hanya sempat merepet panjang pendek berapi-api di depan beberapa teman saja. Nalar saya masih jalan, Alhamdulillah.

Awalnya begini. Suatu ketika ada gosip tak sedap yang sampai di telinga saya tentang seorang teman. Daripada penasaran, saya konfirmasi langsung kepada yang bersangkutan pada suatu kesempatan. Saya tanya baik-baik gosip itu dan dijawab gosip itu tidak benar. Caranya menjawab sungguh meyakinkan. Saya memilih berbaik sangka saja, dan mencoba meluruskan gosip itu.

Jadi ketika di luaran teman-teman lain mulai menggosip, saya dengan penuh keyakinan menyangkalnya dengan jawaban konfirmasi. Sekalipun mereka menyodorkan bukti pun, saya masih keukeuh berbaik sangka. Sampai suatu ketika, saya mendapati kenyataan bahwa gosip itu benar adanya. Saya tak bisa melabrak teman saya  karena dia selalu menghindar (sudah dilakukan agak lama, tapi saya baru menyadarinya). Saya marah, murka, karena merasa DIBOHONGI, DIPERALAT dan DILECEHKAN. Niat baik saya dibalas tuba. Saya merasa seluruh dunia sedang mentertawakan saya yang sungguh menyedihkan.

Pada akhirnya saya sanggup mengatasi kemarahan itu dengan memaksa diri tetap berbaik sangka dan belajar memaafkan. Hati manusia mudah berubah-ubah, manusia tempatnya salah dan khilaf. Hahahaha, saya memang naif. Walaupun begitu, sampai sekarang saya menolak berhubungan selain basa-basi dengan teman saya itu. Saya mulai belajar tidak mempercayai begitu saja omongan orang jika tak ada pembuktian. Belajar menggali motif, latar belakang dari sebuah jawaban atau statement.

Ketika minggu lalu saya mendapati diri ini terancam berada pada emosi yang sama dengan kejadian itu...saya merasa sungguh bodoh. Saya kok ndak pinter-pinter sih yaaaaa. Apa di jidat saya ada tulisan tak kentara tapi terbaca oleh siapa saja kecuali saya: Mudah Dibohongi. Huhuhu....

Ah, sudahlah. Demi kesehatan jiwa, demi kelangsungan hidup damai dan bahagia, demi tidak terjerumus semakin jauh dalam prasangka, demi bayangan ke Turki yang sungguh menggoda (lho?).....saya memutuskan tak mau berurusan lagi terkait masalah itu. BODO AMAT! Hahahaha...

I'm not a mind reader

Oktober 27, 2011

Balmut Mama

Senin kemarin, setengah tujuh pagi, handphone saya berdering........nomor tidak dikenali :
  ---     
"Assalamu'alaykum....."
"Wa'alaykumsalam wr.wb.....nduk, ini Mama. Sorry kemaren nyampe Jeddah ga langsung telpon. Mama capek banget."
"Mamaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa..............."
---

Campuran kuatir dan rindu karena tak ada kabar sejak Sabtu malam lalu sampai Senin pagi itu, berujung saya yang tak sadar berteriak-teriak mendengar suaranya di speaker handphone. Eeee, saya juga menderita demam mendadak ding pas Sabtu malam itu. Hahaha. 

Jadi begitulah, sudah seminggu ini saya tidur sembari memeluk balmut (bantal selimut) punya mama yang seharusnya dititahkan untuk di-laundry. Balmut itu tidak akan saya laundry sampai menjelang waktu kepulangan mama dari ber-haji. Berharap balmut itu bisa meredam demam yang seringkali muncul jika mendadak rindu dan tak bisa dituntaskan karena mama sudah berpesan: 

"Mama baik-baik saja. Ini temennya banyak. Sekamar ma mbak Arum juga. Mama ndak usah ganti kartu telpon ya. Bingung nanti nggantine. Trus ndak usah ditelpon-telpon. MAHAL...."

Huhuhu...kenapa tidak boleh telephone? Kan saya yang ngisi pulsanya. Harga pulsa itu ndak seberapa dibandingin demam saya. Tapi apa mau dikata, mama sudah bertitah....*sigh*
Half Purple and Blue Butterfly