Hari Jumat yang lalu, si cantik Serena diajak Bunda-nya main ke kantor. Usianya kalo ga salah baru 18 bulan. Rambut kriwul dikuncir kuda, mata sipit yang sering ilang kalo tersenyum-tertawa, dandanan matching nang lucu khas anak seusianya, udah bisa berekspresi, udah bisa diajak ngobrol. Ngegemesin. Aunty Rona sukaaaaa ^^.
Eh, yang lain juga suka ding. Termasuk Om Machrif, pastinya. Ini temen kerja Aunty Rona; satu level. Udah termasuk senior. Bapak yang supel, baik, suka becanda dan agak sotoy. Tapi serius juga dan perasa. Kesannya takut menyinggung orang lain gitu. Kombinasi suka becanda, sotoy, serius dan takut menyinggung orang lain ini yang kadang jadi obyek keisengan Aunty Rona. Terutama kalo si Bapak mengucapkan sesuatu yang bias atau bisa dipelesetkan Aunty Rona demi kepentingannya sendiri. Macam jumat siang sebelum shalat Jumat kemaren itu.
Aunty Rona sedang main-main sama Serena di meja kantor. Tante yang lain kebetulan juga pada kumpul di situ. Om Machrif datang membahas masalah kerjaan sebelum berangkat ke masjid. Kelar diskusi terjadilah pembicaraan ini:
"Ini anak siapa, mbak?"
"Ini Serena, putrinya Bunda dan Bayu....Sheena, sini cium tangan Pakde dulu."
"Cantik ya, mbak..."
"Terima kasih, pak..."
"Serena ini dulu pasti lahirnya 2.9 kg, mbak. Cantik gini. Soalnya sepengetahuan saya, yang lahirnya 2.9 kg cantik-cantik, mbak...
"Beneran, pak? Wah, terima kasih. Berarti saya cantik juga dong. Secara saya juga 2.9 kg juga."
"................"
"Lho, lho...Pak, mau kemana pak?"
Om Machrif kabur setelah kebingungan mau senyum or ndak, dan Aunty Rona tentu saja ngakak-ngakak girang plus berkoar-koar bangga dengan teori 2.9 kg itu *ehehehehe*
-------------
Begitulah jadinya, kalau fakir pujian sedang kumat isengnya :D