Pages

September 19, 2011

Teori 2.9 Kg

Hari Jumat yang lalu, si cantik Serena diajak Bunda-nya main ke kantor. Usianya kalo ga salah baru 18 bulan. Rambut kriwul dikuncir kuda, mata sipit yang sering ilang kalo tersenyum-tertawa, dandanan matching nang lucu khas anak seusianya, udah bisa berekspresi, udah bisa diajak ngobrol. Ngegemesin. Aunty Rona sukaaaaa ^^.

Eh, yang lain juga suka ding. Termasuk Om Machrif, pastinya. Ini temen kerja Aunty Rona; satu level. Udah termasuk senior. Bapak yang supel, baik, suka becanda dan agak sotoy. Tapi serius juga dan perasa. Kesannya takut menyinggung orang lain gitu. Kombinasi suka becanda, sotoy, serius dan takut menyinggung orang lain ini yang kadang jadi obyek keisengan Aunty Rona. Terutama kalo si Bapak mengucapkan sesuatu yang bias atau bisa dipelesetkan Aunty Rona demi kepentingannya sendiri. Macam jumat siang sebelum shalat Jumat kemaren itu. 

Aunty Rona sedang main-main sama Serena di meja kantor. Tante yang lain kebetulan juga pada kumpul di situ. Om Machrif datang membahas masalah kerjaan sebelum berangkat ke masjid. Kelar diskusi terjadilah pembicaraan ini:

"Ini anak siapa, mbak?"

"Ini Serena, putrinya Bunda dan Bayu....Sheena, sini cium tangan Pakde dulu."

"Cantik ya, mbak..."

"Terima kasih, pak..."

"Serena ini dulu pasti lahirnya 2.9 kg, mbak. Cantik gini. Soalnya sepengetahuan   saya, yang lahirnya 2.9 kg cantik-cantik, mbak...

"Beneran, pak? Wah, terima kasih. Berarti saya cantik juga dong. Secara saya juga 2.9 kg juga."

"................"

"Lho, lho...Pak, mau kemana pak?"

Om Machrif kabur setelah kebingungan mau senyum or ndak, dan Aunty Rona tentu saja ngakak-ngakak girang plus berkoar-koar bangga dengan teori 2.9 kg itu *ehehehehe*
-------------
Begitulah jadinya, kalau fakir pujian sedang kumat isengnya :D

September 16, 2011

Hadap Kiri: Fokus!

Iya, judul postingan ini terinspirasi judul buku Adhitya Mulya dkk yang Traveler's Tale - Belok Kanan: Barcelona!. Entah dimana letak kesamaannya karena saya sedang tidak berniat menuliskan pengalaman traveling yang tak seberapa.

Begini, pulang kantor hari ini saya berencana mampir ke toko buku. Beli peralatan stationery. Belum kepikiran mau beli apa saja. Rencananya saya ingin menuliskan 100 mimpi saya dalam sebuah entah board, karton atau apalah yang berukuran cukup besar. Nantinya, akan saya tempelkan di dinding sisi timur di kamar. Itu artinya setiap kali saya berbaring di kasur dan menghadap ke arah kiri, mimpi-mimpi yang sudah tertulis itu akan menjadi pemandangan yang harus saya lihat.

Hal ini sesungguhnya sudah lama ingin saya wujudkan sejak membaca postingan ini. Kerjaan yang seakan tiada habisnya, manajemen waktu yang kedodoran, atau entah apalah yang membuatnya jadi tertunda. Baru semalam ketika seorang kawan berniat titip membeli buku, saya seperti diberi pencerahan hari inilah saya harus memulainya. Yah, itu bukan satu-satunya alasan juga sih *buang jauh-jauh fakta yang mampir ke telinga rabu sore lalu*. Tapi biarkan saya menyangkalnya dan menjadikan titipan buku itu sebagai alasan utama *hahahaha! parah!*.

Di kepala saya sudah berderet sejumlah mimpi yang akan saya tuliskan. Tapi bahkan sebelum saya memulainya, sudah terasa bahwa mengumpulkan sampai angka 100 (mungkin) bukan pekerjaan yang mudah. Saya akan butuh waktu untuk merenung, melihat lagi blue print hidup yang saya inginkan, mengenali diri jauh ke dalam. Jangan-jangan, di tengah proses menuliskannya saya akan mendapati bahwa ternyata selama ini saya tidak mengenal diri sendiri *keterlaluan! hahahaha*. Ya, setidaknya saya mengambil langkah. Saya akan butuh banyak doa. Sungguh.
hiks, saya lupa darimana gambar ini saya dapatkan. maafkan...

"ketika diri tak kuasa menolak, ketika usaha menisbikannya berujung lara...hanya ini yang bisa dilakukan: mencari kesibukan, membagi fokus"

September 14, 2011

Jauh Tapi Dekat

Akhir minggu lalu saya ke Bandung dalam rangka menghadiri wisuda Neno, adik bungsu sobat 'plek' saya: Ucik. Seperti biasa, saya menempatkan diri jadi tukang foto meskipun hanya mengandalkan kamera digital saja. Hari itu Neno cantik dan terlihat dewasa dalam setelan kebaya dan kain warna biru muda. Mungkin karena riasannya? Tapi rasanya tidak. Sejak awal menjemput kami, saya dan Ucik, di stasiun; saya  baru menyadari ada yang berubah. Pembawaannya lebih matang walau jejak bungsunya masih terlihat.
 
Perbedaan usia kami terpaut jauh, sekitar sepuluh tahunan lebih. Karena itu rasanya tidak percaya Neno sudah menjadi perempuan dewasa. Perasaan seperti baru kemaren saya melihatnya memakai seragam biru putih, merengek minta tambahan uang jajan ke kakak-kakaknya, berselisih dengan ibu soal teman atau pacar-pacarnya, wajah malu-malu mau menerima hadiah atau uang saku dari saya, menghabiskan liburan di kost kami di Surabaya. Waktu terasa cepat berlalu atau kami saja yang mengabaikannya? 

Seharusnya Mama saya bergabung dengan kami: Saya, Ucik, Neno, Ibu dan Bapak di acara wisuda  itu. Mama batal berangkat karena sibuk dengan acara persiapan hajinya yang mendadak. Hanya sempat berbincang lewat handphone saja. Saya jadi teringat keinginan lama Mama menginap di rumah Ucik yang selalu tertunda. Padahal, Ibu dan Bapak selalu menanyakan kapan sempatnya. Selama ini, hanya telephone dan kiriman barang saja yang sampai ke rumah masing-masing.
 
Diakui atau tidak, hidup ini kadang menyajikan realita yang aneh ya. Saudara bertalian darah dan tak terpisah jarak yang jauh, seringkali menjauh, menjadi asing dan terasa seperti orang lain. Tetapi orang lain yang tidak bertalian darah, terpisah jarak cukup jauh, seringkali lebih dekat seperti saudara dan keluarga saja. Apapun alasan dan penyebabnya....begitulah hidup. Kalo orang Perancis bilang... c'est la vie ...begitu ya? 
 

...
to Neno: selamat ya ... semoga benar-benar menjadi 'Sarjana' :)


September 09, 2011

(Bukan) Puisi Galau

Lelaki angin,
yang terbiasa mengakrabi kesunyian...
Ceritakan padaku kisah-kisah negeri seberang: 
yang memberi peluhmu aroma matahari, tanah dan air, 
yang memberi senyummu oase sahara, 
yang memberi matamu palung samudra
Ceritakan dengan bahasamu yang lama kuakrabi: 
bahasa kesunyian

(02.08.2009)
---

Seorang sahabat tadi siang bilang sudah menamatkan tulisan-tulisanku tentangmu. Dia bilang isinya romantis, padahal menurutku itu galau semua. 

Aku teringat emoticon nyengir, ngakak dan ceng-cengan kita di jendela messenger akhir-akhir ini. Kamu masih seperti dulu. Teman diskusi yang bernas, menyenangkan dan apa adanya. Tukang jalan-jalan yang bebas, tak takut sendiri atau kesepian. Pejuang tangguh yang arif dalam kerendahhatian. Darimu, aku mencangkok bibit keberanian menjalani pilihan hidup dengan keyakinan.

Kamu bilang apa waktu itu? Puisi untukmu ini bagus? Aku masih ingat mati gaya-mu ketika kau tanya mengapa 'angin'? Maafkan telah membuatmu jengah. Seperti sahabatku itu bilang, aku ini memang mengidap penyakit lebay parah. Tapi saat itu kau memang seumpama udara untukku.

"Mohon dimaafkan segala salah yang telah ku perbuat", itu jawabmu ketika kuucapkan permohonan maaf lahir batin hari raya lalu. Apa yang telah kau perbuat? Apa yang telah kita perbuat? Apanya yang salah? Aku tak pernah menganggapmu kesalahan, pun tidak juga berbuat salah. Yang telah terjadi adalah bagian lakon hidup yang harus kita jalani. Semoga saja kita pandai memetik pelajaran darinya.

Ku-publish puisi ini sebagai point positif yang menghapus semua tulisan galauku tentangmu, ya. Kamu masih lelaki angin, hanya saja sekarang tak kunanti kisah-kisah negeri seberang darimu...Ck! Cerita hobby baru jalan-jalan ke mall sungguh tak menarik hatiku. Hahahaha...
Half Purple and Blue Butterfly