Pages

Januari 02, 2013

# Day 3; Melayang di Tiu Kelep

Hari ketiga di Lombok, kami lebih siap dari kemarin-kemarin. Baju ganti dan cemilan oleh-oleh tante Probolinggo sudah disiapkan dalam tas terpisah. Berbekal pengalaman beda selera lidah di hari lalu dan jarak yang akan kami tempuh hari ini, sarapan dijadwalkan satu jam lebih awal dari waktu janjian dengan pak Nursin, sang driver. Kami harus mencukupkan energi sampai dengan makan siang nanti.

Hari ini kami khususkan hanya bermain ke air terjun Singang Gila dan Tiu Kelep di Senaru, Lombok Utara. Jarak Senaru dari Mataram adalah sekitar 90 km jika memilih jalur Senggigi atau 60 km jika lewat jalur hutan Pusuk. Desa Senaru adalah salah satu entry point pendakian ke gunung Rinjani dan danau Segara Anak selain dari desa Sembalun. Mengapa saya pilih air terjun ini dan bukannya beberapa air terjun lain yang lebih dekat dengan Mataram seperti Benang Setokel atau Benang Kelambu? Alasannya sok romantis aja: karena mama pernah membacanya dalam salah satu buku panduan wisatanya. See?

Karena memilih jalur melewati hutan Pusuk, perjalanan kami diperkirakan sekitar dua setengah jam. Pemandangan jalur ini adalah kombinasi antara perbukitan dan pantai. Pohon nira dan penjual air nira mendominasi pemandangan menuju ke hutan Pusuk. Melewati Pusuk pass, sepanjang jalan di hutan, banyak monyet liar tapi jinak yang bisa diajak berfoto. Cukup banyak wisatawan yang berhenti untuk berfoto. Saya memilih melewatinya demi menghindari ejekan si bungsu *hehehe*.

Lepas dari Pusuk, kami menyusuri pantai cantik bagian utara Lombok sebelum kembali mendaki perbukitan ke arah kaki gunung Rinjani. Semakin mendekati tujuan, pohon jambu monyet berbuah lebat memanggil-manggil sepanjang jalan. Keinginan berhenti dan mencicipi buahnya juga saya tahan demi menghindari lagi ejekan si bungsu *hehehe*.

Sebelum tengah hari kami sampai di desa Senaru. Turun dari mobil, menuju pos informasi koperasi setempat untuk nego harga guide lokal. Harga guide Rp 30.000,- per orang ke Singang Gila dan Rp 60.000,- per orang jika disambung ke Tiu Kelep. Petunjuk arah ke kedua air terjun tersebut sebenarnya cukup jelas. Hanya saja karena informasi jalur dari Singang Gila ke Tiu Kelep adalah trekking melintasi hutan, maka saya memilih menggunakan guide.

Sebelum masuk ke kawasan air terjun, kami membayar tiket masuk Rp 5.000,- per orang. Jalan ke arah air terjun pertama, Singang Gila, adalah tangga mengular turun naik menyusuri sisi bukit sejumlah kira-kira 300an lebih anak tangga. Keputusan menggunakan guide dirasa tepat karena saya, si bungsu dan guide berbagi tugas membawa tas dan bergantian membantu mama menapaki anak tangga.

Perjalanan yang normalnya ditempuh 15 menit, kami tempuh dalam waktu 30 menit. Karena kurang olah-raga dan faktor U, nafas saya ngos-ngosan mendaki ratusan anak tangga. Apalagi mama tentunya. Setiap menemui tanjakan tangga, kami berhenti sejenak untuk mengatur nafas. Suara air dari kejauhan dan sedikit pemandangan air terjun di sela dedaunan menjadi penyemangat kami. Benar saja, ngos-ngosan itu terbayar lunas sesampainya di Singang Gila.Cantik.

Saya tidak tahu berapa meter tepatnya air terjun ini karena puncaknya tidak terlihat, tertutupi rimbun pepohonan di atasnya. Tidak terlihat tinggi karena setidaknya air melewati tiga undakan sebelum sampai di bawah. Hal ini juga yang saya rasa membuat berdiri di bawah cucurannya lebih kondusif daripada di Tiu Kelep.


Selepas beristirahat, bermain air dan foto sejenak; dengan menimbang medan yang sudah dilalui dan beratnya medan ke Tiu Kelep, kami akhirnya sepakat meninggalkan mama dan barang bawaan di Singang Gila. Mama menunggu di satu-satunya warung tenda yang ada di sana. Untungnya selain warung, tersedia fasilitas toilet, musholla dan tempat duduk untuk pengunjung. Kami tidak khawatir karena mama langsung akrab dengan ibu pemilik warung dan anak-anaknya *tepok jidat*. Berempat dengan Made, kawan baru yang ditemui di sana, kami melanjutkan perjalanan.

Setelah mulai bergerak ke Tiu Kelep, kami bersyukur meninggalkan mama di Singang Gila. Medan yang kami tempuh sekitar 45 menit sungguh tidak memungkinkan untuk mama. Saya dibuat jauh lebih ngos-ngosan. Jalan yang kami lalui melewati tangga beton tinggi dan curam yang terhubung ke jembatan irigasi berlubang dengan air yang deras tanpa pegangan yang memadai. Horor buat saya. Lalu menyusuri tepian sungai irigasi tinggalan jaman Belanda sebelum akhirnya menembus jalan setapak hutan, melompati pohon-pohon besar yang tumbang melintangi jalan, turun-naik jalanan licin dan tanah rapuh, menyeberangi sungai deras dan berbatu, turun-naik batu-batuan, sebelum akhirnya bertemu Tiu Kelep.
tinggi, curam, tanpa pegangan...horor

air mengalir deras di dalam jembatan berlubang ini...jembatan melayang setinggi 10 meter tanpa pegangan memadai

naik, turun, awas licin dan longsor
tak ada jalan setapak kecuali naik turun batu-batu

tiu kelep dibalik batu ini

Horor dan lelah yang saya rasakan terbayar lunas begitu tiba di Tiu Kelep. Dengan ketinggian 60 m dikelilingi tebing setengah lingkaran penuh pepohonan, saya tidak mungkin lagi mendekat dengan membawa kamera tidak anti air ini. Air yang konon berasal dari gunung Rinjani ini, jatuh menciptakan gerimis bahkan sebelum kita mendekatinya. Karena itulah, air terjun ini dinamakan air terbang (tiu = air, kelep = terbang).
sepotong kecil surga di bumi, yang nyaris menumpahkan air mata haru saya kalau tak ingat malu

Tak banyak wisatawan yang datang hari itu. Sepengamatan saya turis domestik hanya kami dan tiga orang Hindu yang bersembahyang di sana ketika kami datang. Selebihnya turis asing dengan guide masing-masing. Kami, kecuali guide, segera menceburkan diri di tepian air terjun. Tidak berani ke tengah karena dari guide diinformasikan ada pusaran air di tengah air terjun walaupun kedalamannya hanya sekitar 1-1.5 meter.

Saya betah di sana, perasaan saya melayang, damai. Saya bersyukur diberi-Nya kesempatan mencicipi potongan surga ini. Saya mengambil wudhu, nekad meminum air yang katanya berkhasiat awet muda, berendam tengadah menghadap langit, tafakur dan duduk diam menyerap atmosfir sekitar. Seandainya tempat itu mudah dikunjungi dari Jakarta...

Setengah jam di sana, kami segera bergegas kembali ke Singang Gila untuk menjemput mama. Perut yang mulai keroncongan sudah tidak dapat ditawar lagi. Setelah berganti pakaian, kami mencari warung seadanya. Syukurlah, di dekat pos masuk utama terdapat warung makan yang menyediakan menu sesuai lidah manis kami *hehehehe*.

Saya pengen balik lagi, suatu saat nanti. Mungkin jika jodoh, saya pengen sampai ke danau Segara Anak yang kata pak Nursin punya banyak cerita aneh dan misterius. Ngomong-ngomong soal misteri, saya teringat percakapan dengan guide sebelum kami berpisah:
"Mas, beneran di Tiu Kelep tadi ndak ada ikan yang hidup didalamnya?"
"Tidak ada, mbak..."
"Lah tapi beneran, mas...tadi saya lihat ikan"
"Ikan?"
"Iya, waktu saya mau nyemplungin kaki di tengah itu. Segede telapak tangan ini, hitam, berenang dari batu ke batu"
"Tidak ada, mbak"
"Suer, mas"
"..."
"Mas?"
"Mbak beruntung..."
"..."


4 komentar:

Enno mengatakan...

katanya sih... kalo liat ikan di Tiu Kelep berarti....

laperrr...!!!

wkwkwkwk

Rona Nauli mengatakan...

Alhamdulillah kalo laper...tapi kok aku merinding, No? wkwkwkwkwk :p

Lita mengatakan...

kangen Mbak Rona...

Rona Nauli mengatakan...

hai Lita :)...aku sedang sok sibuk hehehe

Half Purple and Blue Butterfly