Pages

Desember 22, 2011

Sunyi di Sudut Sumur Tiga

Saya teringat setahun lalu; saat jalan-jalan berdua dengan si bungsu, saat terdampar di resort murah milik Freddie di sudut pantai Sumur Tiga, Sabang. Iya, beban pikiran dan segala kesibukan akhir tahun ini membuat saya ingin kembali ke sana. Seperti May bilang, desperately need vacation. Saya rindu ruang kamar sederhana dari kayu kelapa yang menempel di tebing pinggir pantai itu. Saya rindu damai yang saya rasa di sana. Jauh dari hiruk pikuk dunia: tak ada televisi, jauh dari keramaian, tak ada pertokoan, tak ada tuntutan pekerjaan. Hanya ada kopi, buku, hammock, suara ombak, angin mengayun daun kelapa, suara serangga, suara hati. Kapan saya bisa kembali? *sigh*.

view depan kamar kayu itu. suka duduk klesotan sambil nempelin wajah di pagar, memandang lautan dan pantai di bawah.

suguhan sarapan pagi: matahari terbit.

view ujung paling kanan: ngintip tempat camping di pantai nun jauh di seberang. ujung kareung kalo tak salah.

hammock dijajah si bungsu, saya milih klesotan dan tiduran di kasur saja.

Sabang juga mengingatkan saya pada Mona. Dari dia saya tahu tentang resort si Freddie. Mona yang selalu memanggil saya: Pelangi. Dan saya yang selalu ingin memberinya rangkaian mawar: setangkai atau buket besar. Perempuan cantik luar dalam, shalihah, cerdas luar biasa, sederhana sekaligus kompleks. Ibu yang sangat menyayangi kedua anaknya. Satu-satunya sahabat yang mampu membuat saya berucap 'i love you' dari dasar hati, dengan mudahnya. Mona yang percaya batin kami terkoneksi dalam suatu cara yang ajaib. Kadang, kami tak perlu banyak kata-kata untuk saling mengerti dan merasa.

Sabang, Oktober, setahun yang lalu:
...
"Wish you here, Mon."
"Damai, ya..."
"Malam, kerlip bintang, debur ombak, pantulan sinar bulan di permukaan air laut. Indah."
"Di sini sepi, Pelangi. Aku kesepian di keramaian ini."
"Kemarilah sekarang juga. Kamu lebih membutuhkannya."
"Andai aku bisa, Pelangi. Suara alam yang bertasbih pada-Nya. Indah, sangat indah."
"Hatiku penuh, Mon. Sesak."
"Aku bisa merasakannya dari sini. Terima kasih ya."
"I love you, Mona."
"Kamu sukses membuatku menangis. Bahagia. Love you too, Pelangi. "
...

Mona, aku kangen. Kamu juga, kan? Terasa sekali di hati.  Kau kirim rindu lewat Jilan, sulungmu itu. Aku nelangsa. Hati kita berjarak akhir-akhir ini. Aku yang awalnya tak sengaja memberi batas dan kemudian menegaskannya. Tolong, maafkan aku yang sedang tak arif memaknai suratan. Aku punya alasan. Beri aku waktu. Ingin memelukmu erat dan menangis.

Mona, sunyi di sudut Sumur Tiga itu...sempurna, karena kamu.

2 komentar:

Enno mengatakan...

dan aku beneran nyusut iler senyusut2nya pas tau tempat ini.

kapan2 klo duitku udah banyak, mo sengaja kesini seminggu khusus utk nulis.

cemana ideku itu, rona? oke kan?
hihihi...

rona-nauli mengatakan...

okeeeeeeeeeeeeeeeeeee....

ntar kuantar ke gapang, ke iboih...dijamin lebih ngiler :))

Half Purple and Blue Butterfly